duduk termangu menepi dari keramaian
menyaksikan tiada hentinya kendaran memaksa kecepatan
menyisakan udara kotor pada bulu-bulu hidung dan mata
sejenak sebelum terang
pelan_pelan, diam-diam kubacakan semua kenestaan ini
ketidak berartian jiwaku, ketidak layaanku disampingmu,
ketidak pedulianmu dengan hidupku dan
kebodohanku yang masih saja terus mencitakanmu
kugulung tikar tempat percikan hati yang berserakan
setelah baru tujuh hari kubungkus kafan
agar lukanya tak kelihatan
dan harapan masih tetap berjajar
setengah abad aku sembunyi
di balik perasaanku yang tak kunjung kau temu
di tiap kata kusisipkan cinta
di dalam rasa aku selalu berdo'a
demi bahagiamu kusisihkan orang tua
karena maumu aku rela berdusta
saat kau minta semuanya aku bisa
dan ketika kau larang aku jadi diam
karena tawamu aku jadi berbunga
di dekatmu kedamain datang
suaramu membuat aku tenang
menyentuhmu menghangatkan kehidupan
tapi apa ...
kau kuasai semua janji yang tak berpondasi
kau sanjung dan kerdilkan diri dengan ceritamu sendiri
agar aku kalah,diam terbatah-batah
lalu terasuk oleh lidahmu yang arogansi
dan engkau berhasil menjungkirkanku
pada lubang yang kau gali
kini aku kembali
air mataku menetes dipinggir kali.
06.30.14
