Berdiri tegak dalam ketermanguan bibir
geliat mendentum doa
Tanpa suara, hati mengahadap-NYA diam
meluruh segala rasa
Kepala menanduk tanah kubungkukkan tubuh
lepas beban dunia
Terekam
gambar kakbah seperti nyata
Hingga berggandengan hati dan atma
Bendera di tiang berhenti berkibar
Lipatan tangan melingkari badan
Udara dipenuhi kedamaian Mekkah seperti di
kamar
Seraya seperti bercakap dengan malaikat
kiri—kanan
Ayat sakral yang kukicaukan tiba-tiba
membawa suara musik teman kerjaku
Pensunyian diri pecah, warna dunia merebah
di kolam pikiran
Mengalir warna kertas merah dan biru
seperti mengajak berlayar
Kukeraskan nada suara melipat semua yang
menghalangi kakbahku
Kembali kuluruskan pikiran kucium kakbah dalam sujudku
Mendadak wajah wanita yang pernah duduk
sebangku masalalu datang
Pikiran tertarik ke belakang wajahnya jelas
tergambar
Hati berguman di manakah dia sekarang sepi
berpesta
Kugibas pikiran mengelupas semua noda-noda
itu
Tertatih-tatih menyusun bacaan shalatku
Aku tata kepingan gambar kakbahku dalam
gerakan terbata-bata
Seperti mendorong ombak searah usaha yang
sia-sia
Kepalaku toleh kanan-kiri dengan sisa hati
yang masih bercampur angan sendiri
Hingga aku tak dapat menemukanya lagi
Madura, 2509 2014
Ahun Sumbang